3
Semoga belum terlambat.
3 huruf yang pertama.
Guru saya yang biasa dipanggil 3 huruf pertama adalah, M-A-R, ditambah dengan sebutan pak didepannya. Lengkapnya adalah “Pak Mar”. Masih muda secara fisik dan secara umur entah. Anak tertuanya waktu saya masih smp sudah kuliah dan hampir mau kerja. Dan yang terkecil seumuran dengan saya, masih smp.
Pak Mar bukan guru saya dalam sekolah. Dia adalah guru les saya. Rumah nya dengan rumah saya dekat, sekitar 15 menit jika naik motor. Ibu saya memang ajaib, selalu ada saja jalan untuk gimana caranya supaya saya berkegiatan, dan les atau pelajaran tambahan di luar sekolah adalah jawabannya. Dengan begitu alasan untuk keluar rumah semakin susah dan jadwal bermain dengan beberapa teman jadi minim.
Susah untuk berbohong kepada ibu, karna disamping jadwal sudah pasti dan tetap, pak mar juga selalu telfon ke rumah apabila waktu les berlangsung saya tidak ada di tempat. fiuh. Jadwal les saya adalah malam hari. Selepas magrib setelah selesai makan malam, saya akan langsung ketempat Pak Mar. Biasanya diantar oleh bapak saya atau bisa juga Pak Mar sendiri yang menjemput saya dirumah.
Kendaraan Pak Mar cuman satu, honda cb-100 warna merah. Pak Mar selalu tampil klimis, sebelum masuk ke dalam pagar rumah, dia selalu mengeluarkan sisir dari saku belakang celana kainnya. Meski rambutnya botak, dia tak peduli. Tampil klimis adalah keharusan, dan rapi adalah kewajiban. Kontras dengan para murid-murid nya yang diajar, dan tidak menurun.
Sampai ke rumahnya biasanya kami (saya dan teman saya) akan berhadapan dulu dengan segelas teh anget buatan istri Pak Mar, sebelum beliau memberi pelajaran kepada saya dan teman saya. Dan setelah sesi minum teh beserta gorengan selesai, barulah pelajaran dimulai.
Sesi les itu hanya 3 jam, selesai jam 9 malam. Waktu pulang les saya selalu diantar sampai rumah, dan ini tanpa biaya tambahan antar-jemput, murni inisiatif dari Pak Mar.
3 huruf yang kedua.
Masih muda. Selisih beberapa tahun dan beberapa angkatan dari masa saya sekolah dulu. Dan kuliah di kampus yang sama akhirnya. Bedanya, dia lulus dengan selamat, saya tidak. Panggilannya “Yus”, sebutan di kost mas yus, sebutan di sekolahan pak yus. Tapi kelakukan tetap sama. Konyol, dan nyeleneh. Gaya ngajarnya sama seperti komik yang sering ia baca di kamar kostan, GTA. Great Teacher Onizuka.
Iya, dulu saya dan dia satu kostan. Kamar dia diatas dan saya dibawah. Kostan kami tingkat. Tapi perbedaan kamar tidak berpengaruh, semua kamar adalah sama. Kamar dia kamar saya, begitu juga sebaliknya, kamar saya kamar dia. Ya, kami penganut setia komunis. Komunis yang diartikan dalam arti sesempit dan seenak-enak nya. Hahaha.
Untuk gaya ajar seorang guru, dia memang bukan seperti guru yang biasa. Contohnya ulangan. Waktu ulangan dia akan duduk di meja guru sambil membaca koran dan kacamata hitam. Dan sesekali berlagak tidur. Siapa yang mengira dia merem beneran atau tidak ? tidak ada yang tau karena dia memakai kacamata hitam. Begitulah, licik, culas, dan lucu.
Kalau nanti ketauan ada yang mencontek, dia akan langsung menghampiri anak tersebut. Mengambil contekan dan kembali lagi ke meja guru. Mencoret-coret hasil ujian ? tidak, dia tidak sekejam itu. Kalaupun nanti semua jawaban hasil dari contekan sudah tersalin kedalam jawaban si anak, dia cukup mengurangi nilai anak tersebut.
Nilai saya di mata pelajaran dia selalu mutlak di atas 8. Mentok diangka 9 dan tidak pernah mendapatkan angka 10. Toh saya puas. Karena waktu pembuatan dan penilaian hasil ulangan tersebut saya jugalah yang melakukannya. Hasil penilaian dan pembuatan naskah kostan biasanya di kamar, dan untuk membantu nya, saya biasanya dipanggil. Hahaha.
Yang saya dapat dari dia bukan hanya pelajaran berbuah nilai di rapor semata. Lebih dari itu. Dari dia saya belajar hidup. Bagaiamana caranya kapan harus menjadi air, dan kapan menjadi api. Tapi toh saya belum bisa dan belum lulus. Kebanyakan saya terlalu banyak menjadi api, bukan air.
Menemui dia setelah saya lulus dan mendapat kerja susah. Dia seperti umbu landu paranggi, yang lebih suka menjadi pupuk, dan ketika tanaman mulai subur, dia menghilang. Andaikan dia dekat, dia sulit untuk disentuh.
3 yang terakhir, saudara saya. E-D-O. Orang yang pertama kali mengenalkan saya kepada komputer waktu smp. Dia yang sabar mengajarkan saya mulai dari main game, mengkonekan diri ke internet melalui modem yang nyaring bunyinya, dan mendongengkan saya dengan berbagai macam cerita tentang cybercrime. Iya, hacking.
Waktu itu yang lagi tenar wenas. Anak kecil yang sudah bisa mengobrak-abrik sistem di singapur. Yah, cerita-cerita macam gitu, dan saya akui saya sangat kagum. Maklum masih ndeso dan sekarang pun masih juga sayangnya.
Dia juga yang mengenalkan saya kepada komputer bernama macintosh. Kalau sekarang yang namanya mac itu adalah stylish, maka jangan samakan itu dengan jaman dulu, hehehe. Jaman dulu yang namanya mac itu butuh listrik yang sangat besar. Saking besarnya rumah mbah saya dulu harus mematikan kulkas dan tv, supaya si mac ini nyala.
Monitornya masih crt dengan cpu yang berbentuk kotak, dan besar. Mouse masih kotak, keyboard benar-benar dalam arti yang sebenarnya “papan key”. Keras, kotak, dan gemeletuk kasar. Yeay!
Begitulah 3 huruf dalam 3 orang nama yang saya anggap guru dalam kehidupan saya. Tentunya yang lainpun masih banyak.
Selamat hari guru!
postingan terkait:
About this entry
You’re currently reading “3,” an entry on Untitled
- Published:
- November 25, 2008 / 11:19 am
- Category:
- celotehan
- Tags:

2 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]