Siapa yang berani berharap tentulah harus berani kecewa. Begitulah sebuah kalimat sederhana pelipur lara bagi sang-pemanggul kekecewaan.
Ada satu tulisan Umar Kayam yang menarik, ketika beliau berada di rusia. Saat itu beliau bersama Taufik Ismail, baru tiba di tashkent, salah satu daerah di uzbekistan. Rencananya, hari itu mereka akan langsung ke moskwa. Tapi entah oleh alasan kenapa, tiba-tiba rencana tersebut gagal. Penjemput mereka mengatakan bahwa rencana mereka berubah dan diganti dengan acara menginap terlebih dahulu selama beberapa hari di tashkent dan dilanjutkan dengan jalan-jalan ke sekitar tashkent dan samarkand.
Samarkand sendiri adalah kota tua dan merupakan tempat pariwisata yang unik di rusia. Umar Kayam menulis, tempat ini sebagai tempat yang bongkok karena menanggung beban sejarah ratusan, ribuan tahun yang lalu. Eksotik. Masih berdasar atas tulisan beliau, di kota ini terdapat mesjid tua yang indah. Namanya mesjid bibi khanum . Mesjid ini terkenal dengan cupola atau berarti kubah nya yang indah. Tapi sayang cupola tersebut telah runtuh, begitupula dengan pintu-pintu raksasa didalam mesjid tersebut.
Ceritanya waktu itu Umar Kayam ngobrol dengan salah satu duta sovyet yang baru datang dari jakarta. Bahasa indonesianya bagus, dan percakapannya kurang lebih seperti berikut :
“Saya harap saudara senang di tashkent dan kota-kota lain di sovyet uni”
“Tentu”
“Saya harap saudara akan melihat sebanyak-banyaknya selama disini”
“Tentu”
“Dan dengan seobjektif-objektifnya”
“Tentu”
“Jangan seperti wartawan-wartawan saudara tempo hari”
“Kenapa dengan mereka ?”
“Mereka lebih perlu cerita tentang hal yang kecil-kecil”
“Umpamanya ?”
“Sabun karbol dan wc aeroflot”
“Apakah mereka berbohong tentang itu ?”
“Ya, kalau mau cerita tentang kekurangan-kekurangan, tentu ada banyak. Juga dijakarta bukan?, itu cuman soal kecil-kecil saja…tidak perlu..”
Pesta telah usai. Panggung telah dibongkar dan masing-masing seseorang mulai mengconnect’an dirinya kembali dalam dunia internet, berhadapan kembali dengan berbagai macam jenis monitor;crt, flat. Ber kutak-kutik kembali dengan keyboard dan pasangan sejatinya; mouse.
Berbagai macam image dan film pun telah tersebar. Ada yang melalui flickr, youtube, dll. Komentar demi komentar menyeruak berhamburan dibawahnya. Haha-Hihi, say hello, kenalan, sudah ? ya sudah. Jika sudah terposting dan terupload maka sudah khasnya untuk dikomentari bukan ?.
Blogging for society usai sudah. Mempublikasikan ke khayalak ramai untuk “ini lho blogger itu, bisa juga bermanfaat untuk masyarakat”, meski… beberapa komuniti ada juga yang tidak terekspos dan tidak terpublish. Tapi bicara tentang publikasi, apakah masih perlu jika kita melakukan suatu program sosial, lantas kita juga meminta publikasi ke khalayak ramai juga?. Jawaban dengan hati mungkin lebih bijak daripada jawaban dengan pikiran.
Banyak yang salah banyak juga yang benar. Pembenaran dan kesalahan adalah nilai. Penilaian. Dan manusia konon sangat senang menggunjingkan tentang hal ini.
Menurut Saudara bedhes saya dalam komentarnya, society versi perancis adalah societat. Artinya adalah perkumpulan atau persaudaraan, yang katanya juga bisa berarti komunitas. Jadi, kalau saya tak salah tafsirkan, blogging for society berarti juga blogging untuk komunitas. Dan komunitas menjadi kata kunci disini. Komunitas lah yang harus di anak emas kan. Dan menghargai komunitas dalam ajang pesta ini: sangat perlu.
Ya, jika bicara tentang kekurangan pasti lah sesuatu itu ada kurangnya. Toh pesta kemarin itu sudah bagus. Ramai peminat, banyak souvenir, banyak acara knowledge session atau istilah ndeso nya bisa juga disebut ndobos yang sebenarnya bisa juga dilakukan dimana-mana.
Ah, ya sudah. Toh itu soal kecil, tidak perlu..